Ayah pulang, ayah bawakan Dhany buku-buku dan satu set pensil warna. Hampir sepuluh buah, harganya gak mahal-mahal sih. Rata-rata delapan ribu rupiah. Buku mewarnainya beragam, ada isinya gambar mobil, truk, bus, helicopter, kapal terbang. Saat mewarnai gambar kapal terbang, Dhany spontan berteriak. ”Ini Adam Air ya Mah, yang jatuh dan hilang itu”.

Diambilnya pensil warna merah muda, putih, kuning muda. Tangannya kemudian memulas gambar itu pelan-pelan, hasilnya memang tidak rapi. Di lantai, Dhany sibuk dengan pensil warna dan buku gambarnya. Konsentrasinya hanya tertuju pada gambar. Tidak lama kemudian, Dhany menunjukkan hasil kerjanya. Wow, pulasannya juga tidak rata. Menjorok ke sana kemari.

”Kok gambarnya tidak rata sih Dhan”, ujar Mamah BE A (panggilan Dhany untuk Bu Maharani, yang biasa dipanggil mbak Any, perempuan yang sejak Dhany umur tiga bulan mengasuhnya).

”Kan Adam Airnya rusak Mama BE A”, jawabnya spontan. Sungguh tidak terduga.

Soal Adam Air, memang menjadi perhatian Dhany. Kalau dipamiti ayahnya mau pergi ke luar kota, yang selalu ditanya adalah ayah naik apa? Kalau jawabnya naik kapal terbang, maka spontan jangan naik Adam Air ya Yah,

Minat pada alat transportasi, tampaknya sangat besar pada Dhany. Apabila mendapatkan gambar mobil di koran, maka langsung minta untuk diguntingnya untuk kemudian di tempel di dinding. Kalau diajak jalan-jalan ke stasiun kereta api Pemalang, tangannya suka menarik tangan mamahnya untuk membeli tiket di loket.

Kembali ke soal buku mewarnai. Dalam sehari, satu buku itu yang isinya gambar alat transportasi dipulas habis. Dari helikopter, bus dan truk. Saat gambar truk gandeng selesai dipulas, spontan berteiak. ” Mirip dengan truk yang sering bongkat muat di depan rumah ya…”

Di depan rumah, memang sering ada truk gandeng bongkar muat kedelai. Dari balik jendela Dhany sering memperhatikan detail truk itu. Kadang mempraktekan cara supir truk itu menyetir. Tangannya diputar-putar sambil mulutnya beruara ngngengggggggggggg………

Iklan