Ayah pulang, ayah bawakan Dhany buku-buku dan satu set pensil warna. Hampir sepuluh buah, harganya gak mahal-mahal sih. Rata-rata delapan ribu rupiah. Buku mewarnainya beragam, ada isinya gambar mobil, truk, bus, helicopter, kapal terbang. Saat mewarnai gambar kapal terbang, Dhany spontan berteriak. ”Ini Adam Air ya Mah, yang jatuh dan hilang itu”. Baca entri selengkapnya »

Tiba-tiba Dhany bangun dan langsung teriak. “Kaki Dhany sakit, Nanti jalannya gimana”.

Sontak mamah dan Ayahnya bangun. Ayah yang ketiduran saat nonton TV di ruang tengah melompak bak kijang dan langsung meraba-raba kaki Dhany. Dipijat-pijatnya kedua kaki. Dhany meronta dan sambil menunjuk bagian kaki yang sakit. Ooo di betisnya. Tidak ada tanda memar atau luka. Kami panik, jangan-jangan ada masalah dengan tulang betihnya. Baca entri selengkapnya »

Dhany sudah tiga kali pindah rumah. Bukan lantaran rumah Dhany banyak, tetapi pindah oleh karena habis kontrakan hehehehe. Jadi repot kalau pindahan, mindah barang-barang dan peratan rumah. Termasuk juga mainan Dhany. Mamah yang repot, sebab setiap pindahan Ayah jarang di rumah. Ayah lebih sering di Bekasi dan jarang pulang. Oh iya, Dhany punya rumah di Bekasi di Duta Harapan Bekasi Utara. Sayang rumah di Bekasi sepi, hanya ayah sendirian yang menempati. Baca entri selengkapnya »

Dhany sering diajak ayah ke WTS ( Warung Tengah Sawah). Warung makan miliknya Bu Ruslani ini memang berada di tengah-tengah sawah, jauh dari keramaian kota Pemalang. Warung ini, meski letaknya di tengah sawah dan jauh dari kota, tetapi tidak pernah sepi pengunjung. Pengunjung yang datang selalu rombongan. Lokasinya di dukuh Gedugan, Desa Jebed Selatan sekitar dua kilometer dari Kecamatan Taman. Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.